Tak terasa air mataku menetes dari kedua mataku. Dengan segera aku menghapusnya karena aku tidak ingin terlihat oleh ibuku jika aku telah menangis. Tayangan televisi itu telah mengingatkanku pada seseorang yang menjadi penuntun orang-orang dimasa ini, siapa lagi kalau bukan Nabi Muhammad? Beliau telah banyak berkorban demi melawan semua kejahatan yang ingin meluluh lantahkan agamanya bahkan pamannya sendiri pun, ia akan hadapi untuk urusan agamanya. Ketika aku sudah mengetahui bahwa agama islam selalu menang atas peperangan mereka dengan orang yahudi. Aku sangat bangga atas kegigihan nabi dan rasul terdahulu.
Tapi di masa ini, apakah terjadi hal yang sama dengan pengorbanan terdahulu? Aan aku menjawab iya. Parahnya lagi, orang-orang kejam itu menggunakan teknologi canggih tetapi mereka menyalah gunakan itu untuk menyakiti orang lain. Ketika kau mengetahui bahwa wanita dan anak-anak banyak yang tewas dalam aksi tersebut dan lagi ada banyak anggota keluarga yang kehilangan orang-orang yang mereka sayangi.
Seketika itu pula aku melihat ibu, ibu yang aku sayangi tentunya. Aku membayangkan bahwa aku akan berpisah dengan ibuku suatu hari nanti. Entah apa yang terjadi nanti, air mataku menetes lagi. Menetes melebihi derasnya sungai yang mengalir. Aku memikirkan sosok ibu, ibu yang selalu menyayangiku tanpa pamrih.
Aku selalu berdoa semoga ibu diberi umur panjang untuk bisa melihatku sukses di masa datang. Para ibu yang ada di luar sana pasti juga merasa kehilangan saat mengetahui bahwa anaknya telah tiada, begitu pula sebaliknya. Di Palestina dan Suriah maupun negara-negara yang tertimpa perang saat ini. Tolong hentikan peperangan ini, anak-anak dan ibu-ibu pun ikut tewas dalam peperangan ini. apakah kalian tak ingat akan datangnya hari kiamat? inilah yang bisa kulakukan untuk melawan orang-orang biadab itu. semoga kita selalu dilindungi oleh Allah SWT. amin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar